TECH

|

in this topic.

Kolaborasi NVIDIA dan Intel Fokus AI, PC Gaming Terancam Lesu di 2026

Nathaniel

Selasa, 20 Januari 2026 pukul 13.18

Ringkasan

Dibuat oleh AI

NVIDIA dan Intel memperkuat kerja sama untuk mendominasi pasar AI berbasis data center. Fokus ini berpotensi mengorbankan PC gaming, dengan prediksi penurunan pasar dan kenaikan harga komponen sepanjang 2026.

Kemitraan besar antara NVIDIA dan Intel tidak membawa kabar manis bagi penggemar PC gaming. Alih-alih menghadirkan lonjakan performa GPU dan CPU untuk gamer, kolaborasi ini justru diarahkan penuh ke pasar AI dan data center.

Dalam sesi wawancara di CES 2026 bersama PC World, analis industri Ian Cutress menjelaskan bahwa aliansi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan korporasi, bukan konsumen. Menurutnya, target utama NVIDIA dan Intel adalah dominasi server AI bernilai miliaran dolar.

Dorongan utamanya datang dari permintaan pelanggan data center. Meski NVIDIA telah mengembangkan CPU ARM Grace, perusahaan besar dan hyperscaler tetap memilih arsitektur x86. Alasannya sederhana. Infrastruktur perangkat lunak mereka sudah lama berbasis x86, tim pengembang lebih terbiasa, dan ekosistemnya dianggap matang untuk beban kerja enterprise.

Permintaan ini memaksa NVIDIA berputar arah. GPU NVIDIA kini dipadukan dengan CPU x86 Intel demi mengamankan posisi di server AI. Langkah ini memberi Intel napas baru lewat integrasi teknologi seperti NVLink, namun sekaligus menyingkirkan ambisi NVIDIA membangun ekosistem ARM secara mandiri.

Krisis Komponen Menghantam PC Gaming

Dampak terbesarnya terasa di pasar konsumen. Ian Cutress memperingatkan bahwa pasar PC global diprediksi turun di kisaran menengah satu digit hingga mendekati dua digit sepanjang 2026. Penyebab utamanya bukan hanya minat yang melemah, tetapi krisis pasokan komponen.

Produsen chip kini mengalihkan kapasitas produksi ke High Bandwidth Memory untuk server AI. Akibatnya, RAM dan penyimpanan standar untuk PC gaming terjepit. Pasokan menyusut, harga naik, dan konsumen kembali menjadi pihak yang menunggu.

Menurut Cutress, uang besar kini ada di AI. Meski CEO NVIDIA Jensen Huang dikenal peduli pada gamer, insentif finansial untuk memprioritaskan grafis terintegrasi revolusioner bagi konsumen nyaris tidak ada dalam waktu dekat.

Wawancara ini juga menyinggung nasib DGX Spark, kotak AI mini NVIDIA yang awalnya dikembangkan bersama MediaTek. Proyek tersebut mengalami penundaan hingga delapan bulan karena masalah kolaborasi. Analis memprediksi NVIDIA akan mengalihkan sistem kecil ini ke arsitektur x86 agar kompatibel dengan Windows. Namun perangkat tersebut tetap difokuskan untuk pengembangan AI, bukan gaming.

Lalu apa artinya bagi gamer? Harga hardware cenderung naik, stok terbatas, dan tidak ada chip gaming revolusioner dari kolaborasi NVIDIA dan Intel dalam waktu dekat. Saran Cutress justru sederhana. Mainkan kembali game lama di koleksi Steam. Ia menyebut lebih dari separuh library gamer rata-rata bahkan belum pernah disentuh.

Masih ada satu sisi positif. Tanpa lonjakan hardware besar, developer game mau tidak mau harus mengoptimalkan game untuk spesifikasi yang ada, bukan sekadar mengandalkan brute force performa. Namun untuk 2026, arah industri sudah jelas. AI menjadi prioritas utama, sementara pasar PC gaming diminta bersabar lebih lama.

Kolaborasi NVIDIA dan Intel Fokus AI, PC Gaming Terancam Lesu di 2026

Nathaniel

Selasa, 20 Januari 2026 pukul 13.18

TECH

|

in this topic.

Ringkasan

Dibuat oleh AI

NVIDIA dan Intel memperkuat kerja sama untuk mendominasi pasar AI berbasis data center. Fokus ini berpotensi mengorbankan PC gaming, dengan prediksi penurunan pasar dan kenaikan harga komponen sepanjang 2026.

Kemitraan besar antara NVIDIA dan Intel tidak membawa kabar manis bagi penggemar PC gaming. Alih-alih menghadirkan lonjakan performa GPU dan CPU untuk gamer, kolaborasi ini justru diarahkan penuh ke pasar AI dan data center.

Dalam sesi wawancara di CES 2026 bersama PC World, analis industri Ian Cutress menjelaskan bahwa aliansi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan korporasi, bukan konsumen. Menurutnya, target utama NVIDIA dan Intel adalah dominasi server AI bernilai miliaran dolar.

Dorongan utamanya datang dari permintaan pelanggan data center. Meski NVIDIA telah mengembangkan CPU ARM Grace, perusahaan besar dan hyperscaler tetap memilih arsitektur x86. Alasannya sederhana. Infrastruktur perangkat lunak mereka sudah lama berbasis x86, tim pengembang lebih terbiasa, dan ekosistemnya dianggap matang untuk beban kerja enterprise.

Permintaan ini memaksa NVIDIA berputar arah. GPU NVIDIA kini dipadukan dengan CPU x86 Intel demi mengamankan posisi di server AI. Langkah ini memberi Intel napas baru lewat integrasi teknologi seperti NVLink, namun sekaligus menyingkirkan ambisi NVIDIA membangun ekosistem ARM secara mandiri.

Krisis Komponen Menghantam PC Gaming

Dampak terbesarnya terasa di pasar konsumen. Ian Cutress memperingatkan bahwa pasar PC global diprediksi turun di kisaran menengah satu digit hingga mendekati dua digit sepanjang 2026. Penyebab utamanya bukan hanya minat yang melemah, tetapi krisis pasokan komponen.

Produsen chip kini mengalihkan kapasitas produksi ke High Bandwidth Memory untuk server AI. Akibatnya, RAM dan penyimpanan standar untuk PC gaming terjepit. Pasokan menyusut, harga naik, dan konsumen kembali menjadi pihak yang menunggu.

Menurut Cutress, uang besar kini ada di AI. Meski CEO NVIDIA Jensen Huang dikenal peduli pada gamer, insentif finansial untuk memprioritaskan grafis terintegrasi revolusioner bagi konsumen nyaris tidak ada dalam waktu dekat.

Wawancara ini juga menyinggung nasib DGX Spark, kotak AI mini NVIDIA yang awalnya dikembangkan bersama MediaTek. Proyek tersebut mengalami penundaan hingga delapan bulan karena masalah kolaborasi. Analis memprediksi NVIDIA akan mengalihkan sistem kecil ini ke arsitektur x86 agar kompatibel dengan Windows. Namun perangkat tersebut tetap difokuskan untuk pengembangan AI, bukan gaming.

Lalu apa artinya bagi gamer? Harga hardware cenderung naik, stok terbatas, dan tidak ada chip gaming revolusioner dari kolaborasi NVIDIA dan Intel dalam waktu dekat. Saran Cutress justru sederhana. Mainkan kembali game lama di koleksi Steam. Ia menyebut lebih dari separuh library gamer rata-rata bahkan belum pernah disentuh.

Masih ada satu sisi positif. Tanpa lonjakan hardware besar, developer game mau tidak mau harus mengoptimalkan game untuk spesifikasi yang ada, bukan sekadar mengandalkan brute force performa. Namun untuk 2026, arah industri sudah jelas. AI menjadi prioritas utama, sementara pasar PC gaming diminta bersabar lebih lama.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.