Pendiri xAI Mundur Satu per Satu, Start Up AI Elon Musk Dilanda Gejolak Internal

Ringkasan
Dibuat oleh AI
Salah satu pendiri xAI, Jimmy Ba, resmi keluar menyusul eksodus beberapa anggota tim teknis lainnya. Tekanan untuk mengejar OpenAI dan Anthropic, target ambisius proyek MacroHard, serta rencana merger dengan SpaceX disebut memperburuk situasi internal perusahaan AI milik Elon Musk.
xAI kembali kehilangan salah satu pendirinya. Jimmy Ba, yang memimpin riset, keamanan, dan lini enterprise, mengonfirmasi pengunduran dirinya lewat platform X.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Elon Musk dan mengatakan akan tetap dekat sebagai teman tim.
Kepergian Ba menyusul Tony Wu, yang sebelumnya memimpin tim reasoning, dan menjadi pendiri kelima yang keluar dari total 12 orang yang meluncurkan xAI pada 2023.
Dalam beberapa minggu terakhir, lebih dari setengah lusin peneliti lain juga dikabarkan meninggalkan perusahaan.
Tekanan untuk Mengejar OpenAI dan Anthropic
Beberapa sumber menyebut ada ketegangan internal karena pimpinan teknis dianggap terlalu menjanjikan kemajuan besar kepada Musk.
Targetnya jelas, mengejar pemain besar seperti OpenAI dan Anthropic.
Namun tekanan untuk mempercepat pengembangan model AI dinilai membuat tuntutan kerja menjadi tidak realistis.
Musk sendiri disebut mengadakan panggilan internal untuk membahas perubahan kepemimpinan teknis.
Proyek MacroHard dan Target Super Ambisius
Salah satu fokus utama xAI adalah proyek agen AI dan coding bernama MacroHard.
Sistem ini bersaing dengan OpenAI Codex dan Claude Code milik Anthropic.
Dalam podcast Dwarkesh, Musk mengatakan ia berharap “emulasi manusia digital” bisa terselesaikan akhir tahun ini. Ia mendefinisikannya sebagai AI yang bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan manusia dengan komputer.
Target sebesar itu tentu membutuhkan sumber daya dan stabilitas tim yang kuat.
Kontroversi dan Tekanan Publik
Produk chatbot Grok milik xAI juga sempat mendapat sorotan global. Platform ini menerima permintaan pembuatan konten seksual non konsensual yang memicu kritik keras.
Tahun lalu, Grok juga dikritik setelah memuji Hitler dan memposting konten antisemit di X sebelum akhirnya diperbaiki.
Selain itu, lini AI companion seperti karakter anime Ani yang bisa melakukan percakapan erotis dinilai belum memberikan engagement sesuai harapan Musk.
Merger dengan SpaceX Tambah Tekanan
Musk baru saja mengumumkan rencana menggabungkan xAI dengan SpaceX untuk membentuk entitas gabungan bernilai sekitar 1,5 triliun dolar.
Rencana ini mencakup pengembangan jaringan satelit pusat data untuk menjalankan model AI dari luar angkasa.
Namun merger ini juga bertujuan membantu xAI mendapatkan modal besar untuk chip, listrik, dan pusat data.
Masalahnya, Musk disebut ingin membawa entitas gabungan ini melantai di bursa secepatnya, bahkan mungkin pada Juni mendatang.
Artinya, tekanan performa makin besar.
Perombakan Besar di Jajaran Eksekutif
Dalam setahun terakhir, beberapa eksekutif penting juga keluar, termasuk general counsel, CFO, dan kepala product engineering.
Sebagai gantinya, Musk menunjuk Anthony Armstrong sebagai CFO dan Jonathan Shulkin sebagai chief revenue officer.
Restrukturisasi ini menunjukkan Musk sedang mencoba merapikan fondasi keuangan dan operasional.
Apa Artinya untuk Masa Depan xAI?
xAI berdiri dengan ambisi besar untuk menantang dominasi OpenAI dan Google DeepMind.
Namun eksodus pendiri dan peneliti di tahap pertumbuhan kritis bisa memengaruhi stabilitas inovasi.
Di sisi lain, Musk punya rekam jejak membangun perusahaan besar lewat tekanan tinggi dan target ambisius.
Kepergian beberapa pendiri xAI menandakan adanya turbulensi serius di balik layar.
Apakah ini fase penyesuaian sebelum lonjakan besar, atau sinyal masalah struktural yang lebih dalam, masih belum jelas.
Yang pasti, dengan merger SpaceX dan target IPO yang agresif, masa depan xAI dalam beberapa bulan ke depan akan jadi sorotan besar di industri AI global.



