DEVELOPERS

|

in this topic.

Banyak Developer Game Menolak AI, Saat Raksasa Industri Justru Mengejar Tren Baru

Nathaniel

Selasa, 13 Januari 2026 pukul 13.24

Ringkasan

Dibuat oleh AI

Kesenjangan sikap terhadap AI generatif di industri game makin melebar. Studio besar mendorong adopsi AI, sementara banyak developer indie dan menengah memilih menolaknya demi konsistensi artistik dan integritas kreatif.

Perdebatan soal AI generatif di industri game kembali memanas. Di satu sisi, nama-nama besar seperti Electronic Arts, Ubisoft, dan Xbox semakin agresif mengeksplorasi teknologi AI untuk produksi game. Namun di sisi lain, semakin banyak studio game yang secara terbuka menyatakan penolakan mereka terhadap AI generatif, terutama untuk aset visual dan konten kreatif inti.

Salah satu sikap paling mencolok datang dari Larian Studios, studio di balik kesuksesan Baldur's Gate 3. Dalam sesi Reddit AMA, CEO Larian menegaskan bahwa studio tersebut tidak lagi menggunakan AI generatif untuk concept art maupun aset in-game pada proyek Divinity terbaru mereka. Meski begitu, ia masih melihat potensi AI dalam ranah non-kreatif, seperti optimalisasi workflow dan mempercepat proses eksperimen ide, tanpa menggantikan peran seniman.

Sikap serupa juga diambil oleh tim pengembang Code Vein 2 dari Bandai Namco. Dalam wawancara dengan PCGamesN, produser Keita Iizuka menegaskan bahwa Code Vein 2 tidak akan menggunakan AI generatif sama sekali. Alasannya cukup jelas, tim ingin menjaga kohesivitas dunia dan gaya visual yang sangat bergantung pada sentuhan artistik manusia. Bagi mereka, konsistensi estetika lebih penting daripada kecepatan produksi.

Penolakan terhadap AI bahkan tidak hanya datang dari developer, tetapi juga dari sisi penerbit. Hooded Horse, publisher di balik game seperti Manor Lords dan Endless Legend 2, secara resmi melarang penggunaan AI generatif dalam proyek yang mereka terbitkan. CEO Hooded Horse, Tim Bender, menyebut larangan ini sudah tertulis langsung dalam kontrak penerbitan. Ia juga memperingatkan bahwa penggunaan AI, bahkan sekadar untuk placeholder di tahap awal, bisa dengan mudah “kebablasan” dan merusak kredibilitas sebuah proyek.

Peringatan tersebut merujuk pada kasus Clair Obscur: Expedition 33, yang sempat menuai kontroversi terkait AI dan akhirnya kehilangan penghargaan Indie Game of the Year. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana penggunaan AI bisa berbalik menjadi bumerang bagi reputasi game.

Situasi ini menunjukkan jurang yang semakin lebar di industri game. Studio besar melihat AI sebagai jalan menuju efisiensi dan inovasi, sementara banyak studio lain memandangnya sebagai ancaman terhadap identitas, nilai seni, dan kepercayaan pemain. Ke depan, pertarungan antara efisiensi teknologi dan idealisme kreatif tampaknya akan menjadi salah satu isu terbesar yang membentuk masa depan industri game.

Banyak Developer Game Menolak AI, Saat Raksasa Industri Justru Mengejar Tren Baru

Nathaniel

Selasa, 13 Januari 2026 pukul 13.24

DEVELOPERS

|

in this topic.

Ringkasan

Dibuat oleh AI

Kesenjangan sikap terhadap AI generatif di industri game makin melebar. Studio besar mendorong adopsi AI, sementara banyak developer indie dan menengah memilih menolaknya demi konsistensi artistik dan integritas kreatif.

Perdebatan soal AI generatif di industri game kembali memanas. Di satu sisi, nama-nama besar seperti Electronic Arts, Ubisoft, dan Xbox semakin agresif mengeksplorasi teknologi AI untuk produksi game. Namun di sisi lain, semakin banyak studio game yang secara terbuka menyatakan penolakan mereka terhadap AI generatif, terutama untuk aset visual dan konten kreatif inti.

Salah satu sikap paling mencolok datang dari Larian Studios, studio di balik kesuksesan Baldur's Gate 3. Dalam sesi Reddit AMA, CEO Larian menegaskan bahwa studio tersebut tidak lagi menggunakan AI generatif untuk concept art maupun aset in-game pada proyek Divinity terbaru mereka. Meski begitu, ia masih melihat potensi AI dalam ranah non-kreatif, seperti optimalisasi workflow dan mempercepat proses eksperimen ide, tanpa menggantikan peran seniman.

Sikap serupa juga diambil oleh tim pengembang Code Vein 2 dari Bandai Namco. Dalam wawancara dengan PCGamesN, produser Keita Iizuka menegaskan bahwa Code Vein 2 tidak akan menggunakan AI generatif sama sekali. Alasannya cukup jelas, tim ingin menjaga kohesivitas dunia dan gaya visual yang sangat bergantung pada sentuhan artistik manusia. Bagi mereka, konsistensi estetika lebih penting daripada kecepatan produksi.

Penolakan terhadap AI bahkan tidak hanya datang dari developer, tetapi juga dari sisi penerbit. Hooded Horse, publisher di balik game seperti Manor Lords dan Endless Legend 2, secara resmi melarang penggunaan AI generatif dalam proyek yang mereka terbitkan. CEO Hooded Horse, Tim Bender, menyebut larangan ini sudah tertulis langsung dalam kontrak penerbitan. Ia juga memperingatkan bahwa penggunaan AI, bahkan sekadar untuk placeholder di tahap awal, bisa dengan mudah “kebablasan” dan merusak kredibilitas sebuah proyek.

Peringatan tersebut merujuk pada kasus Clair Obscur: Expedition 33, yang sempat menuai kontroversi terkait AI dan akhirnya kehilangan penghargaan Indie Game of the Year. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana penggunaan AI bisa berbalik menjadi bumerang bagi reputasi game.

Situasi ini menunjukkan jurang yang semakin lebar di industri game. Studio besar melihat AI sebagai jalan menuju efisiensi dan inovasi, sementara banyak studio lain memandangnya sebagai ancaman terhadap identitas, nilai seni, dan kepercayaan pemain. Ke depan, pertarungan antara efisiensi teknologi dan idealisme kreatif tampaknya akan menjadi salah satu isu terbesar yang membentuk masa depan industri game.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.