
FILM
|
in this topic.
Rahasia di Balik Filter "Kuning-Hijau" yang Mengganggu Psikologi
Nathaniel
Senin, 09 Februari 2026 pukul 18.43

Ringkasan
Dibuat oleh AI
Dalam industri K-Drama, warna adalah instrumen psikologis yang sangat kuat. Series bergenre thriller sering kali menggunakan palet warna Sickly Yellow dan Murky Green. Secara teknis, kombinasi warna ini memicu respons bawah sadar terkait rasa sakit dan kecemasan. Artikel ini mengungkap bagaimana pemilihan warna tersebut bekerja di balik layar untuk membangun atmosfer mencekam sebelum cerita dimulai.
Warna Sebagai "Penyampai Pesan" Tersembunyi
Pernah nggak kamu nonton series seperti Squid Game atau All of Us Are Dead dan langsung merasa suasananya mencekam, padahal adegan seramnya belum mulai? Itu bukan kebetulan. Sineas Korea sangat detail dalam melakukan color grading, yaitu proses teknis mengubah warna film saat tahap editing untuk membangun mood.
Kalau drakor romantis identik dengan warna cerah dan hangat, genre thriller justru mengambil arah sebaliknya. Mereka menggunakan filter yang cenderung "kotor" dan tidak natural untuk memberikan sinyal pada otak kita bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja.
Kenapa Harus Hijau dan Kuning?
Secara psikologi warna dan teknis sinematografi, ada alasan kuat kenapa filter ini jadi andalan:
1. Kesan Penyakit dan Kematian (The Sickly Hue) Dalam alam dan dunia medis, warna kuning pucat atau hijau lumut sering dikaitkan dengan penyakit, racun, atau pembusukan. Saat layar dipenuhi warna-warna kusam ini, otak penonton secara otomatis menangkap sinyal bahwa lingkungan tersebut "tidak sehat". Ini menciptakan rasa tidak nyaman yang terus-menerus selama kita menonton.
2. Menciptakan Rasa Terasing yang Dingin Warna kuning yang digunakan biasanya bukan kuning hangat seperti sinar matahari, melainkan kuning "dingin" yang pucat.
Teknisnya: Sinematografer biasanya menurunkan tingkat kejenuhan warna (saturation). Hasilnya, kulit para aktor terlihat sedikit pucat keabu-abuan. Ini membuat karakter di layar terlihat lebih rapuh, lelah, dan rentan terhadap bahaya.
3. Membuat Warna Darah Jadi Lebih "Pop" Ini adalah trik teknis yang cerdas. Warna hijau dan kuning berada di posisi yang kontras dengan warna merah pada roda warna.
Efeknya: Saat sebuah adegan didominasi filter hijau atau kuning, warna merah darah akan terlihat jauh lebih gelap dan menonjol. Hal ini membuat adegan kekerasan terasa jauh lebih intens dan nyata bagi penonton.
Catatan Sinematografi: Teknik ini berbeda dengan thriller Hollywood yang lebih sering pakai warna biru tua atau hitam pekat untuk kesan misterius. Sineas Korea lebih suka menciptakan suasana claustrophobic atau perasaan terkepung di ruang sempit yang pengap.
Warna Adalah Bagian dari Naskah
Bagi sutradara di Korea, color grading adalah bagian dari naskah yang tidak tertulis. Mereka nggak cuma ingin kamu melihat cerita, tapi juga merasakan emosinya lewat mata. Filter hijau dan kuning adalah cara mereka "berbisik" bahwa bahaya sedang mengintai di balik bayangan.
Jadi, kalau nanti kamu merasa merinding padahal belum ada hantu yang muncul, coba perhatikan warna layarnya. Itulah saat di mana psikologimu sedang dipermainkan oleh visual yang kamu lihat.
Similar Articles
NEWS
Rahasia di Balik Filter "Kuning-Hijau" yang Mengganggu Psikologi
FILM
•

NEWS
Mengapa 'Practical Effects' Kembali Menjadi Primadona di Tengah Gempuran CGI yang Makin Sempurna
FILM
•

NEWS
AI Voice-Cloning Bikin Aktor Hollywood Bisa "Ngomong" Bahasa Indonesia dengan Emosi Asli
FILM
•

NEWS
Film Iron Lung Garapan Markiplier Meledak di Box Office, Bahkan Dev Gamenya Sampai Kaget
FILM
•

ALSO READ


Rahasia di Balik Filter "Kuning-Hijau" yang Mengganggu Psikologi
Nathaniel
Senin, 09 Februari 2026 pukul 18.43
FILM
|
in this topic.
Ringkasan
Dibuat oleh AI
Dalam industri K-Drama, warna adalah instrumen psikologis yang sangat kuat. Series bergenre thriller sering kali menggunakan palet warna Sickly Yellow dan Murky Green. Secara teknis, kombinasi warna ini memicu respons bawah sadar terkait rasa sakit dan kecemasan. Artikel ini mengungkap bagaimana pemilihan warna tersebut bekerja di balik layar untuk membangun atmosfer mencekam sebelum cerita dimulai.
Warna Sebagai "Penyampai Pesan" Tersembunyi
Pernah nggak kamu nonton series seperti Squid Game atau All of Us Are Dead dan langsung merasa suasananya mencekam, padahal adegan seramnya belum mulai? Itu bukan kebetulan. Sineas Korea sangat detail dalam melakukan color grading, yaitu proses teknis mengubah warna film saat tahap editing untuk membangun mood.
Kalau drakor romantis identik dengan warna cerah dan hangat, genre thriller justru mengambil arah sebaliknya. Mereka menggunakan filter yang cenderung "kotor" dan tidak natural untuk memberikan sinyal pada otak kita bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja.
Kenapa Harus Hijau dan Kuning?
Secara psikologi warna dan teknis sinematografi, ada alasan kuat kenapa filter ini jadi andalan:
1. Kesan Penyakit dan Kematian (The Sickly Hue) Dalam alam dan dunia medis, warna kuning pucat atau hijau lumut sering dikaitkan dengan penyakit, racun, atau pembusukan. Saat layar dipenuhi warna-warna kusam ini, otak penonton secara otomatis menangkap sinyal bahwa lingkungan tersebut "tidak sehat". Ini menciptakan rasa tidak nyaman yang terus-menerus selama kita menonton.
2. Menciptakan Rasa Terasing yang Dingin Warna kuning yang digunakan biasanya bukan kuning hangat seperti sinar matahari, melainkan kuning "dingin" yang pucat.
Teknisnya: Sinematografer biasanya menurunkan tingkat kejenuhan warna (saturation). Hasilnya, kulit para aktor terlihat sedikit pucat keabu-abuan. Ini membuat karakter di layar terlihat lebih rapuh, lelah, dan rentan terhadap bahaya.
3. Membuat Warna Darah Jadi Lebih "Pop" Ini adalah trik teknis yang cerdas. Warna hijau dan kuning berada di posisi yang kontras dengan warna merah pada roda warna.
Efeknya: Saat sebuah adegan didominasi filter hijau atau kuning, warna merah darah akan terlihat jauh lebih gelap dan menonjol. Hal ini membuat adegan kekerasan terasa jauh lebih intens dan nyata bagi penonton.
Catatan Sinematografi: Teknik ini berbeda dengan thriller Hollywood yang lebih sering pakai warna biru tua atau hitam pekat untuk kesan misterius. Sineas Korea lebih suka menciptakan suasana claustrophobic atau perasaan terkepung di ruang sempit yang pengap.
Warna Adalah Bagian dari Naskah
Bagi sutradara di Korea, color grading adalah bagian dari naskah yang tidak tertulis. Mereka nggak cuma ingin kamu melihat cerita, tapi juga merasakan emosinya lewat mata. Filter hijau dan kuning adalah cara mereka "berbisik" bahwa bahaya sedang mengintai di balik bayangan.
Jadi, kalau nanti kamu merasa merinding padahal belum ada hantu yang muncul, coba perhatikan warna layarnya. Itulah saat di mana psikologimu sedang dipermainkan oleh visual yang kamu lihat.
Similar Articles
NEWS
Rahasia di Balik Filter "Kuning-Hijau" yang Mengganggu Psikologi
FILM
•

NEWS
Rahasia di Balik Filter "Kuning-Hijau" yang Mengganggu Psikologi
FILM
•

NEWS
Mengapa 'Practical Effects' Kembali Menjadi Primadona di Tengah Gempuran CGI yang Makin Sempurna
FILM
•

NEWS
Mengapa 'Practical Effects' Kembali Menjadi Primadona di Tengah Gempuran CGI yang Makin Sempurna
FILM
•

NEWS
AI Voice-Cloning Bikin Aktor Hollywood Bisa "Ngomong" Bahasa Indonesia dengan Emosi Asli
FILM
•

NEWS
AI Voice-Cloning Bikin Aktor Hollywood Bisa "Ngomong" Bahasa Indonesia dengan Emosi Asli
FILM
•

NEWS
Film Iron Lung Garapan Markiplier Meledak di Box Office, Bahkan Dev Gamenya Sampai Kaget
FILM
•

NEWS
Film Iron Lung Garapan Markiplier Meledak di Box Office, Bahkan Dev Gamenya Sampai Kaget
FILM
•

Veirn.
Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.
Veirn.
Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.
Veirn.
Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.
