GAMING

|

in this topic.

Larian Studios Larang Aset AI Generatif di Game Divinity Baru

Nathaniel

Minggu, 11 Januari 2026 pukul 18.25

Ringkasan

Dibuat oleh AI

Larian Studios memastikan game Divinity baru bebas dari aset seni berbasis AI generatif. Studio menegaskan bahwa kreativitas manusia tetap menjadi inti pengembangan, meski teknologi machine learning tetap digunakan untuk efisiensi teknis di balik layar.

Pengembang Larian Studios, yang dikenal luas lewat kesuksesan Baldur’s Gate 3, akhirnya memberikan kejelasan soal sikap mereka terhadap penggunaan AI generatif di game terbaru Divinity. Keputusan ini muncul setelah kekhawatiran besar dari komunitas gamer yang mencuat pasca The Game Awards 2025.

Dalam sesi AMA di Reddit, Larian menegaskan bahwa mereka tidak lagi menggunakan AI generatif untuk pembuatan concept art. Keputusan ini diambil untuk menghilangkan keraguan soal orisinalitas karya seni yang akan muncul di dalam game. Sebelumnya, studio sempat bereksperimen dengan AI hanya untuk eksplorasi ide awal, bukan aset final, namun respons publik menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tetap dianggap problematis.

Kontroversi bermula dari pernyataan CEO Swen Vincke dalam wawancara dengan Bloomberg, yang menyebut AI digunakan untuk mempercepat proses ideasi. Meski niatnya bersifat teknis, banyak penggemar khawatir Larian akan menjauh dari kualitas handcrafted yang menjadi ciri khas mereka.

Menanggapi hal itu, Vincke menyatakan bahwa seluruh concept art Divinity kini dijamin 100 persen buatan manusia. Langkah ini diambil agar tidak ada lagi kebingungan antara eksplorasi internal dan hasil akhir yang dinikmati pemain.

Meski begitu, Larian tidak sepenuhnya menutup pintu bagi teknologi machine learning. AI tetap dimanfaatkan di balik layar untuk pekerjaan teknis seperti manajemen puluhan ribu voice line, pengujian sistem, dan optimasi engine. Menurut Larian, ini justru membantu developer lebih fokus pada kreativitas, bukan menggantikannya.

Isu sensitif lain yang ikut dibahas adalah perlindungan aktor suara. Larian menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan rekaman aktor untuk melatih model suara AI, bahkan jika ada izin sekalipun. Komitmen ini menjadi sinyal kuat bahwa studio ingin menjaga etika industri di tengah tren otomatisasi yang makin agresif.

Dengan membedakan peran AI sebagai alat bantu teknis, bukan pencipta karya, Larian berusaha menjaga keseimbangan antara inovasi dan integritas seni. Untuk saat ini, pesan mereka jelas: Divinity akan tetap menjadi game yang lahir dari kreativitas manusia, bukan mesin.

Larian Studios Larang Aset AI Generatif di Game Divinity Baru

Nathaniel

Minggu, 11 Januari 2026 pukul 18.25

GAMING

|

in this topic.

Ringkasan

Dibuat oleh AI

Larian Studios memastikan game Divinity baru bebas dari aset seni berbasis AI generatif. Studio menegaskan bahwa kreativitas manusia tetap menjadi inti pengembangan, meski teknologi machine learning tetap digunakan untuk efisiensi teknis di balik layar.

Pengembang Larian Studios, yang dikenal luas lewat kesuksesan Baldur’s Gate 3, akhirnya memberikan kejelasan soal sikap mereka terhadap penggunaan AI generatif di game terbaru Divinity. Keputusan ini muncul setelah kekhawatiran besar dari komunitas gamer yang mencuat pasca The Game Awards 2025.

Dalam sesi AMA di Reddit, Larian menegaskan bahwa mereka tidak lagi menggunakan AI generatif untuk pembuatan concept art. Keputusan ini diambil untuk menghilangkan keraguan soal orisinalitas karya seni yang akan muncul di dalam game. Sebelumnya, studio sempat bereksperimen dengan AI hanya untuk eksplorasi ide awal, bukan aset final, namun respons publik menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tetap dianggap problematis.

Kontroversi bermula dari pernyataan CEO Swen Vincke dalam wawancara dengan Bloomberg, yang menyebut AI digunakan untuk mempercepat proses ideasi. Meski niatnya bersifat teknis, banyak penggemar khawatir Larian akan menjauh dari kualitas handcrafted yang menjadi ciri khas mereka.

Menanggapi hal itu, Vincke menyatakan bahwa seluruh concept art Divinity kini dijamin 100 persen buatan manusia. Langkah ini diambil agar tidak ada lagi kebingungan antara eksplorasi internal dan hasil akhir yang dinikmati pemain.

Meski begitu, Larian tidak sepenuhnya menutup pintu bagi teknologi machine learning. AI tetap dimanfaatkan di balik layar untuk pekerjaan teknis seperti manajemen puluhan ribu voice line, pengujian sistem, dan optimasi engine. Menurut Larian, ini justru membantu developer lebih fokus pada kreativitas, bukan menggantikannya.

Isu sensitif lain yang ikut dibahas adalah perlindungan aktor suara. Larian menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan rekaman aktor untuk melatih model suara AI, bahkan jika ada izin sekalipun. Komitmen ini menjadi sinyal kuat bahwa studio ingin menjaga etika industri di tengah tren otomatisasi yang makin agresif.

Dengan membedakan peran AI sebagai alat bantu teknis, bukan pencipta karya, Larian berusaha menjaga keseimbangan antara inovasi dan integritas seni. Untuk saat ini, pesan mereka jelas: Divinity akan tetap menjadi game yang lahir dari kreativitas manusia, bukan mesin.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.