GAMING

|

in this topic.

Kesalahan Fatal di Balik Kegagalan Comeback Splitgate 2

Nathaniel

Minggu, 11 Januari 2026 pukul 18.57

Ringkasan

Dibuat oleh AI

Splitgate 2 sebenarnya punya fondasi gameplay yang kuat, tetapi cara game ini diperkenalkan ke publik justru menjadi bumerang. Satu momen di Summer Game Fest 2025 mengubah antusiasme menjadi kekecewaan, hingga memaksa rebranding ke Splitgate: Arena Reloaded yang kini masih berjuang menarik pemain.

Game Splitgate dulu adalah contoh langka FPS yang langsung terasa klik. Perpaduan gunplay ala Halo dan mekanik portal yang cerdas membuatnya segar, seru ditonton, dan menyenangkan dimainkan. Game ini tidak berjanji berlebihan, dan justru itu yang membuatnya dicintai. Karena itulah, kejatuhan Splitgate 2 terasa jauh lebih menyakitkan.

Masalahnya bukan sekadar soal kualitas game. Splitgate 2 gagal karena cara ia dipresentasikan ke publik. Dalam industri game, trailer yang bagus sering kali cukup untuk menutupi kekurangan. Namun di kasus ini, satu momen justru menghancurkan segalanya.

Momen yang Mengubah Segalanya

Titik balik terjadi di Summer Game Fest 2025, panggung besar dengan jutaan penonton. Tim 1047 Games datang untuk mengumumkan spin-off battle royale dari Splitgate. Secara finansial dan eksposur, ini jelas bukan slot murah. Seharusnya ini menjadi panggung pembuktian Splitgate 2.

Yang terjadi justru sebaliknya. CEO Ian Proulx tampil sambil mengejek genre FPS, ditambah penggunaan topi bernuansa politik. Alih-alih terlihat percaya diri, momen ini dianggap arogan dan tidak peka. Fokus publik langsung bergeser dari game ke sikap kepemimpinan studio.

Dalam hitungan jam, media sosial dipenuhi kritik. Fans lama yang dulu membela Splitgate mulai mempertanyakan arah studio. Pemain yang sensitif terhadap isu politik ikut mengecam. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam satu penampilan.

Rebranding yang Terlambat

Untuk meredam dampak, 1047 Games melakukan reset dengan mengganti nama menjadi Splitgate: Arena Reloaded. Sayangnya, rebranding tidak menghapus ingatan kolektif pemain. Bagi banyak orang, nama baru ini tetap dibayangi oleh momen memalukan di Summer Game Fest.

Beban Arena Reloaded semakin berat karena ia adalah game live-service. Model ini menuntut basis pemain yang besar dan konsisten, sesuatu yang sulit dicapai ketika kepercayaan sudah terlanjur retak.

Angka yang Bicara

Data dari Steam memperjelas masalahnya. Saat peluncuran ulang, jumlah pemain bersamaan hanya menyentuh sekitar 2.300. Dalam hari normal, angka itu turun ke kisaran 800 hingga 1.000 pemain. Padahal, Splitgate pernah mencatat puncak sepanjang masa di atas 25.000 pemain. Untuk game live-service, ini adalah sinyal bahaya.

Pelajaran Pahit

Ironisnya, inti Splitgate masih brilian. Gameplay-nya tetap solid. Namun kepercayaan pemain adalah mata uang terpenting, dan itu hancur bukan karena bug atau balancing, melainkan karena sikap. Jika ejekan pada genre FPS berdiri sendiri, mungkin bisa dianggap bercanda. Namun dikombinasikan dengan simbol politik, reaksinya berubah menjadi badai.

Arena Reloaded kini harus berjuang merebut perhatian sekaligus memulihkan reputasi. Sebuah tugas yang jauh lebih sulit dibanding sekadar memperbaiki matchmaking. Comeback ini menjadi pengingat keras bahwa dalam industri game, kerendahan hati sering kali lebih penting daripada percaya diri berlebihan.

Kesalahan Fatal di Balik Kegagalan Comeback Splitgate 2

Nathaniel

Minggu, 11 Januari 2026 pukul 18.57

GAMING

|

in this topic.

Ringkasan

Dibuat oleh AI

Splitgate 2 sebenarnya punya fondasi gameplay yang kuat, tetapi cara game ini diperkenalkan ke publik justru menjadi bumerang. Satu momen di Summer Game Fest 2025 mengubah antusiasme menjadi kekecewaan, hingga memaksa rebranding ke Splitgate: Arena Reloaded yang kini masih berjuang menarik pemain.

Game Splitgate dulu adalah contoh langka FPS yang langsung terasa klik. Perpaduan gunplay ala Halo dan mekanik portal yang cerdas membuatnya segar, seru ditonton, dan menyenangkan dimainkan. Game ini tidak berjanji berlebihan, dan justru itu yang membuatnya dicintai. Karena itulah, kejatuhan Splitgate 2 terasa jauh lebih menyakitkan.

Masalahnya bukan sekadar soal kualitas game. Splitgate 2 gagal karena cara ia dipresentasikan ke publik. Dalam industri game, trailer yang bagus sering kali cukup untuk menutupi kekurangan. Namun di kasus ini, satu momen justru menghancurkan segalanya.

Momen yang Mengubah Segalanya

Titik balik terjadi di Summer Game Fest 2025, panggung besar dengan jutaan penonton. Tim 1047 Games datang untuk mengumumkan spin-off battle royale dari Splitgate. Secara finansial dan eksposur, ini jelas bukan slot murah. Seharusnya ini menjadi panggung pembuktian Splitgate 2.

Yang terjadi justru sebaliknya. CEO Ian Proulx tampil sambil mengejek genre FPS, ditambah penggunaan topi bernuansa politik. Alih-alih terlihat percaya diri, momen ini dianggap arogan dan tidak peka. Fokus publik langsung bergeser dari game ke sikap kepemimpinan studio.

Dalam hitungan jam, media sosial dipenuhi kritik. Fans lama yang dulu membela Splitgate mulai mempertanyakan arah studio. Pemain yang sensitif terhadap isu politik ikut mengecam. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam satu penampilan.

Rebranding yang Terlambat

Untuk meredam dampak, 1047 Games melakukan reset dengan mengganti nama menjadi Splitgate: Arena Reloaded. Sayangnya, rebranding tidak menghapus ingatan kolektif pemain. Bagi banyak orang, nama baru ini tetap dibayangi oleh momen memalukan di Summer Game Fest.

Beban Arena Reloaded semakin berat karena ia adalah game live-service. Model ini menuntut basis pemain yang besar dan konsisten, sesuatu yang sulit dicapai ketika kepercayaan sudah terlanjur retak.

Angka yang Bicara

Data dari Steam memperjelas masalahnya. Saat peluncuran ulang, jumlah pemain bersamaan hanya menyentuh sekitar 2.300. Dalam hari normal, angka itu turun ke kisaran 800 hingga 1.000 pemain. Padahal, Splitgate pernah mencatat puncak sepanjang masa di atas 25.000 pemain. Untuk game live-service, ini adalah sinyal bahaya.

Pelajaran Pahit

Ironisnya, inti Splitgate masih brilian. Gameplay-nya tetap solid. Namun kepercayaan pemain adalah mata uang terpenting, dan itu hancur bukan karena bug atau balancing, melainkan karena sikap. Jika ejekan pada genre FPS berdiri sendiri, mungkin bisa dianggap bercanda. Namun dikombinasikan dengan simbol politik, reaksinya berubah menjadi badai.

Arena Reloaded kini harus berjuang merebut perhatian sekaligus memulihkan reputasi. Sebuah tugas yang jauh lebih sulit dibanding sekadar memperbaiki matchmaking. Comeback ini menjadi pengingat keras bahwa dalam industri game, kerendahan hati sering kali lebih penting daripada percaya diri berlebihan.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.

Veirn.

Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.