Cutting-Edge
|
Review
Nioh 3 - Rise of the Shogun
Josias
2026-02-23 15:58:00
Ringkasan
Dibuat oleh AI
Nioh 3 terasa secara garis besar gambarin puncak perjalanan panjang Team Ninja selama hampir satu dekade terakhir. Semua eksperimen dari Wo Long dan Rise of the Ronin dikompilasi, dipoles, lalu dimasukkan ke dalam DNA Nioh yang udah terbilang kuat sejak series Nioh dibentuk.
Punya style combat yang makin dalam tanpa ngorbanin tingkat kesulitan player buat maininnya. Desain level jadi lebih terbuka dengan ciri khas Nioh sendiri. Endingnya? Nioh 3 jadi lebih dari sekedar sequel. Bisa dibilang bahkan bisa jadi versi paling oke dalam serial Nioh 3 sejauh ini.
Introduction
Nioh selalu masuk kategori “souls-like” mirip dengan Elden Ring dan sejenisnya. Ada checkpoint ala bonfire, Amrita yang hilang saat mati, scaling stats seiring berjalannya player memainkan gamenya, dan tingkat kesulitan yang nggak kompromi tapi tetap seru.
Nioh punya ciri khas, yang buat game ini lebih dekat ke DNA game fighting: stance-switching, ritme yang cenderung cepat. Duel tajam cukup presisi. Ada rasa mirip" Ninja Gaiden di dalamnya, ada aroma Tenchu, ada sentuhan Onimusha. Dan di Nioh 3, semua itu disatuin secara solid oleh developer.
Team Ninja sebagai developer terasa seperti studio yang hoki dalam bereksperimen, dan hadirnya Nioh 3 jadi mempertegas arah dari Series Nioh ini.
Sinopsis
Nioh 3 singkatnya merupakan game yang gabungin sejarah Jepang dengan fiksi supernatural. Kali ini kita bakal melintasi berbagai era dari Edo, Sengoku (Warring States), Heian, sampai Bakamatsu.
Setiap periode di Nioh punya identitas visual dan konflik berbeda. Kita bakal punya setting tempur yang bervariasi, mulai dari melintasi kuil di tepi jurang, ladang bersalju Kyoto, sampai medan perang yang kompleks di padang bunga.
Cerita jadi fokus utama seri ini dan ini pun fungsinya tetap sebagai pendorong konflik yang terjadi di berbagai era. Skalanya yang dibawah di Nioh 3 jadi extended story dan keunikan yang bisa dibilang memperluas game ini.
Aspek Visual
Secara artistik, Nioh 3 kuat.
Variasi era sejarah yang dilewatin kasih kita ontras visual yang segar: merah dan amber khas Sengoku, putih dingin Heian, hingga landscape pesisir yang dibalut mitologi kayak Daidara Bocchi yang bangkit dari laut.
Sayangnya sih, kualitas teknisnya nggak selalu konsisten. Kadang kita melihat bioma indah, tapi di sudut tertentu ada tekstur low-res yang cukup ganggu mata kalau kita jeli. Secara performa, khususnya di PS5, mode performance cukup stabil di 60fps, dengan beberapa area yang sedikit drop.
Jujur, ini bukan game "souls-like" tercantik di jaman sekarang, tapi atmosfer dan desain artistiknya tetap solid.
Aspek Audio
Sound effect dari pedang saat deflect sukses itu punya suara yang “ngena” banget sih. Spark cahaya, clash dari baja, sampai yang cukup ekstrim kayak efek darah menyembur, semuanya berasa autentik, berat dan muasin di telinga.
Musiknya nggak terlalu dominan, tapi ambience dan efek pertarungan cukup efektif membangun tensi di game ini. Setiap duel terasa seperti medan tempur yang penuh ritme.
Sound design mungkin bukan highlight utama, tapi cukup mendukung pengalaman combat agresif yang dihadirin Nioh 3.
Acting & Chemistry
Karena ini bukan game tipikal karakter-driven yang biasa punya cutscene emosional/cerita yang panjang, “chemistry” lebih terasa pada hubungan kita sebagai pemain dengan sistemnya battling, exploring dan lain".
Dan sistem combat di sini klik banget, transisi antara gaya Samurai dan Ninja terasa seamless. Kita bisa buka dengan Samurai buat deflect dan tekan Ki lawan, dan lanjut langsung switch mode Ninja untuk dash cepat dan hajar dari belakang.
Rasanya kayak punya dua build aktif dalam satu karakter. Paling asik? kalau semua berhasil digabungin dan jadi satu kombo full atau panjang, rasanya puas banget.
Cerita & Naskah
Cukup sama kayak seri sebelumnya, cerita Nioh 3 berfungsi jadi transisi.
Campuran sejarah Jepang dan elemen yokai tetap jadi pondasi komplit. Musuh-musuhnya jauh lebih variatif di sequel kali ini seperti kepiting raksasa, kelelawar antropomorfik, petani iblis, sampai pasukan berkuda tanpa kepala.
Secara narasi cukup monoton dan kurang revolusioner, tapi cukup buat kita terus gerak dari satu konflik ke konflik berikutnya tanpa rasa bosen.
Dan memang, kekuatan utama seri ini bukan dialog/cerita atau cutscene, tapi di duel dan mekanisme nya yang seru.
Pacing & Durasi
Perubahan terbesar game ini datang dari desain “open field”. Sebenernya bukan sepenuhnya open world seperti Rise of the Ronin, tapi juga bukan level linear seperti game Nioh pada umumnya. Nioh kali ini punya map besar, semi-terbuka, dengan jalur bercabang/shortcut khas Nioh tetap dipertahanin.
Perubahan ini punya efek cukup besar ke pacing.
Misal, kalau kita mentok di boss, kita bisa mundur dulu, jelajahin area lain, naik level, atau mutusin buat cari gear yang lebih bagus. Selesaikan side quest, terus lanjut kembali lawan boss dengan build lebih matang juga bisa.
Kesulitannya tetap presisi, tajem, tapi sekarang kita punya opsi ruang yang lebih terbuka buat nafas. Hal ini buat Nioh 3 terasa lebih approachable tanpa ngorbanin mekanisme kesulitannya.
Cocok Nggak Buat Kamu?
Cocok kalau kamu:
Suka combat teknikal dan presisi tinggi
Fans souls-like tapi ingin tempo lebih cepat
Suka build crafting dan min-maxing
Mau tantangan yang keras tapi fair
Kurang cocok kalau kamu:
Cari cerita sinematik emosional
Tidak suka sistem kompleks
Mudah frustrasi dengan game sulit
Ini bukan game santai. Tapi juga bukan game yang tidak adil.
Kesimpulan
Nioh 3 adalah game buatan Team Ninja di development terbaiknya.
Setiap sistem lama yang jadi ciri khas Nioh dipoles. Setiap ide baru dieksekusi secara matang. Desain open field kasih kita sebagai player napas segar tanpa ngorbanin ciri khas seri Nioh ini.
Tapi menurut kita masih ada kekurangan kecil seperti tekstur yang inkonsisten, loot berlebihan (tapi itu minor dibanding keseluruhan kualitasnya)
Ini bukan cuma sekuel dari Nioh sih, Ini versi paling solid dari formula Nioh sejauh ini. Dan kalau kamu pernah menikmati seri ini sebelumnya, kemungkinan besar kamu bakal jatuh lebih dalam kali ini.
9.2
GREAT
The Good
Curated by Veirn
The Samurai and Ninja combat styles are fully fleshed out and distinct
Combat is immensely satisfying in both styles
The shift to an open-field structure encourages and rewards exploration
Quality-of-life improvements cut down on the time spent sorting through loot
The Bad
Curated by Veirn
Graphically inconsistent, and the performance suffers in places
The abundance of loot makes most of it feel inconsequential












