Cutting-Edge
|
Review
Code-Vein 2
Josias
2026-02-24 11:48:00
Ringkasan
Dibuat oleh AI
Kalau ada satu hal yang bisa dibanggain dari Code Vein 2, mungkin kita bisa bilang yaitu kebebasan build-nya. Disini kita bisa ganti role sesuka hati, eksperimen Blood Code, mainin kombinasi senjata dan skill yang variatif rasanya. Secara konsep? jujur game ini keren banget.
Tapi di luar itu, banyak masalah lama yang masih nyangkut dan seolah belum diberesin, Kayak musuh yang kelewat gampang banget, vibes dungeon yang cukup repetitif, open-world masih berasa hollow dan kosong, ditambah lagi performa game yang kurang stabil.
Hasilnya menurut kita, sekuel ini masih kerasa biasa aja, dan kurang greget aja gitu.
Introduction
Di atas kertas, Code Vein 2 kelihatan kayak upgrade yang signifikan.
Game yang hadir dengan open-world, punya konsep time travel, sistem build makin yang dibikin fleksibel, serta visual khas Code Vein seperti gothic anime-ish yang makin stylish.
Harusnya beberapa hal yang kita sebutan bisa buat serial game Code Vein naik kelas, apalagi sejak genre souls-like berkembang jauh setelah Code Vein pertama rilis.
Sayangnya sih, walau ambisinya lebih besar, eksekusinya masih nyangkut di tempat yang sama.
Sinopsis
Singkatnya, dunia di Code Vein ini digambarin seperti dunia yang lagi ada di ujung kehancuran. Manusia dan Revenant (makhluk abadi sekilas mirip vampire) hidup berdampingan sambil ngelawan bencana bernama Resurgence.
Seratus tahun lalu, sekelompok Revenant ngorbanin diri mereka demi menyegel Resurgence. Mereka akhirnya berhasil dikurung dalam cocoon raksasa di area bernama Frontier.
Masalahnya? Segelnya gagal, dan sekarang kita harus balik ke masa lalu buat nemuin para pahlawan yang masih hidup pada jamannya.. kita ditugasin buat nyelametin mereka dengan tujuan untuk lawan setiap monster versi mereka di masa sekarang.
Konsepnya menarik sih, dengan bumbu time travel yang bertujuan buat benerin masa depan. Formula yang udah familiar, tapi potensinya kayak kurang digali lebih. Mungkin karena menurut kita, penulisannya terlalu generik terkadang berlebihan. Beberapa momen emosional ada yang oke, terutama karena kita tau bakalan bunuh karakter yang sebelumnya kita kenal dan bonding bareng. Tapi cara penyampaiannya yang generik, cukup ngerusak vibesnya.
Banyak flashback yang berasa flat dan kurang dramatis.
Aspek Visual
Transisi ke game bertema open world jadi perubahan paling besar dibanding game pertama.
Frontier punya dua versi: masa lalu dan masa kini, undead Forest yang dulu hijau jadi wasteland ke abu"an. Kota beracun bisa “diselamatkan” kalau kita selesai beresin sesuatu di masa lalu.
Secara konsep, keren sih. Tapi secara gameplay? Hampir nggak ngaruh. Contohnya, kita sempat bikin keputusan di masa lalu yang bikin jembatan bisa muncul di masa kini. Kedengarannya impactful kan buat story? tapi karena udah ada fast travel dan kita udah lewat jalur lain, jembatan itu jadi nggak ada efek sama sekali (cenderung kaya bisa dilewatin aja).
Visualnya juga campur aduk, kadang dapet vista cakep. Tapi pas dilihat detailnya, teksturnya muddy dan flat. Kebanyakan area didominasi warna abu-abu dan coklat, yang jujur agak kurang enak aja dilihat.
Kalau pernah main Elden Ring, eksplorasi di sini bakal terasa kurang organik dan kurang exploratif aja gitu waktu dimainin.
Open World & Eksplorasi
Open world-nya terasa kaku. Ada motor buat keliling, bahkan bisa deploy sayap buat glide. Kedengeran kaya bakal jadi game Open-World yang seru ya? Tapi invisible wall di mana-mana bikin kebebasannya cuma jadi ilusi doang. Kita tetap harus masuk area lewat pintu yang “ditentukan”.
Dungeon juga kurang memorable, kurang greget. Susah bedain mana bangunan yang cuma dekorasi, mana yang beneran dungeon. Terkadang juga sering ketemu arena yang isinya musuh biasa aja.
Bukannya terasa lebih luas dan hidup, Frontier justru kerasa kosong dan monoton buat dimainin.
Combat & Sistem Build
Nah, kayak yang kita bilang diawal.. ini bagian terbaiknya.
Sistem Blood Code bikin kita bisa ganti build tanpa ribet reset stat. Mau dari tank jadi mage? Tinggal ganti Code.
Senjata juga cukup variatif:
Twin Blades buat fast playstyle
Greatsword & Hammer buat damage berat
Halberd, axe, dan lainnya
Kita juga bisa equip Formae (skill khusus), baik offensive maupun defensive. Resource-nya pakai Ichor, yang harus diisi ulang dengan cara nyedot darah musuh lewat senjata khusus bernama Jail. Variasi Jail beda-beda cara pakainya, ada yang fokus parry atau defensive, ada juga yang lebih agresif.
Partner system juga oke. Kita bisa:
Fight bareng companion (mereka bantu heal & distraksi)
Atau Assimilate, merge buat buff gede tapi solo
Secara teori, ini fleksibel banget.
Masalah Combat
Masalahnya, game jarang maksa kita buat pakai semua sistem itu, sistem yang dibangun secara variatif jadi berasa kurang ngefek juga akhirnya.
Mayoritas musuh biasa gampang banget, bisa di-stagger terus sampai mati tanpa perlawanan. Dungeon juga terasa kayak bersihin sampah, bukan punya vibes real dungeon yang ada challenge ada mekanik khusus buat mainin agar seru.
Boss biasa juga sering cuma versi lebih gede dari musuh reguler. Boss cerita memang jauh lebih menarik dan challenging. Tapi di situ juga keliatan masalah teknisnya secara performa game, dimana framerate di PS5 (bahkan Pro) naik turun. Kadang ada input delay, ada momen invincibility frame terasa nggak konsisten disertai dengan hitbox aneh.
Buat kalian pecinta genre soulslike, rasa challenge itu penting banget biar bisa ngerasa serunya main game tersebut.
Pacing & Performa
Open world harusnya bikin game terasa lebih bebas, tapi di sini malah bikin pacing berantakan. Area luas tapi cenderung banyak limitasi, musuh yang dibikin kelewat gampang, dungeon terlalu repetitif, performa yang nggak stabil.
Transisinya dari linear ke open world justru terasa downgrade, bukan evolusi.
Cocok Ga Untuk Kamu?
Kalian bakal enjoy kalau:
Suka eksperimen build
Suka estetika gothic anime
Nggak terlalu peduli performa teknis
Kurang cocok kalau:
Lo nyari soulslike yang solid dan konsisten
Lo gampang frustrasi sama frame drop & hitbox aneh
Lo pengen eksplorasi open world yang penuh misteri
Kesimpulan
Code Vein 2 punya satu kekuatan besar: fleksibilitas build yang asik banget buat diutak-atik. Tapi selain itu, banyak aspek yang nyandet seperti musuh yang monoton, lingkungan yang mbosenin, open-world kurang hidup, performa teknis bikin kesel.
Genre soulslike udah berkembang jauh sejak 2019. Sayangnya, meski kelihatan ambisius, Code Vein 2 masih terjebak di bayangan masa lalunya sendiri. Sebenernya, bukan game yang gagal total juga.. Tapi jelas bukan lompatan besar yang seharusnya jadi standar sekuel buat game sekelas Code Vein.
6.1
GREAT
The Good
Curated by Veirn
Smaller character moments are engaging
Blood Codes give you the flexibility to experiment with different weapons and builds
Key boss fights are challenging and force you to utilize your full arsenal
The Bad
Curated by Veirn
Doesn't provide enough opportunities to make use of its combat systems
Most enemy encounters are dull and repetitive
Bland environments and level design
Technical issues, from a fluctuating frame rate to odd hit boxes, are frustrating












