
GAMING
|
in this topic.
Valve Hadapi Gugatan Rp14 Triliun Lebih di Inggris, Dituduh Manfaatkan Dominasi Steam
Nathaniel
Rabu, 28 Januari 2026 pukul 13.27

Ringkasan
Dibuat oleh AI
Pengadilan Inggris mengizinkan gugatan besar terhadap Valve berlanjut. Perusahaan dituduh memanfaatkan dominasi Steam untuk membatasi harga di toko lain dan mengambil komisi tinggi yang merugikan jutaan gamer.
Valve kini menghadapi gugatan hukum besar di Inggris dengan nilai klaim mencapai sekitar £656 juta atau setara $900 juta. Gugatan ini menuduh perusahaan menyalahgunakan dominasinya di pasar game PC melalui platform Steam untuk mengenakan harga game dan DLC yang lebih mahal kepada konsumen.
Kasus ini disetujui untuk lanjut ke tahap persidangan oleh UK Competition Appeal Tribunal (CAT). Artinya, pengadilan menilai ada cukup dasar hukum untuk menguji tuduhan tersebut di pengadilan, meski belum memutuskan siapa yang benar.
Gugatan ini mewakili hingga 14 juta gamer di Inggris yang disebut telah membayar lebih mahal antara £22 hingga £44 per orang sejak Juni 2018.
Penggugat utama dalam kasus ini adalah Vicki Shotbolt, seorang aktivis hak digital anak yang kini menjadi perwakilan kelas kolektif. Ia meluncurkan kampanye bertajuk “Steam You Owe Us” untuk menuntut Valve. Situs kampanye tersebut menegaskan bahwa Shotbolt tidak akan mengambil keuntungan pribadi dari gugatan ini.
Inti tuduhan menyebut Valve menggunakan kebijakan tertentu untuk mencegah publisher menjual game dan konten tambahan dengan harga lebih murah di toko digital lain. Salah satu sorotan utama adalah dugaan platform parity obligation, yaitu aturan yang membuat publisher harus menjaga harga di Steam tetap setara atau lebih murah dibanding platform lain.
Selain itu, Valve juga dikritik atas komisi standar 30 persen yang diambil dari setiap transaksi di Steam. Penggugat mengklaim struktur ini berkontribusi pada harga game yang lebih tinggi bagi konsumen.
Valve sendiri mencoba menghentikan gugatan ini sebelum masuk persidangan. Mereka berargumen bahwa analisis pihak penggugat tidak relevan dan membandingkan Steam dengan pasar yang berbeda, seperti e-book. Valve juga menekankan bahwa adanya Steam Keys memungkinkan game dijual di toko pihak ketiga tanpa komisi Valve, sehingga seharusnya mengurangi dampak dominasi Steam.
Namun, pengadilan menolak argumen tersebut. CAT menyatakan bahwa jika fokus diarahkan ke setiap game atau publisher secara individual, maka hampir mustahil membawa klaim penyalahgunaan harga ke pengadilan.
Hakim menilai ada cukup bukti awal untuk menguji apakah kebijakan Valve memang menciptakan harga yang tidak adil dan merugikan konsumen.
Meski demikian, pengadilan juga mengakui bahwa membuktikan dampak langsung kebijakan Steam terhadap harga pasar akan menjadi tantangan besar. Proses ini dipastikan rumit, terutama dalam menghitung seberapa besar kerugian yang dialami para gamer.
Kasus ini bisa menjadi salah satu gugatan terbesar yang pernah dihadapi Valve dan berpotensi mengguncang industri distribusi game digital.
Jika pengadilan nantinya memutuskan Valve bersalah, dampaknya bisa sangat besar, tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga terhadap cara Steam mengatur harga, komisi, dan hubungan dengan publisher di masa depan.
Similar Articles
NEWS
Valve Hadapi Gugatan Rp14 Triliun Lebih di Inggris, Dituduh Manfaatkan Dominasi Steam
GAMING
•

NEWS
Update Baru Arc Raiders Bikin Proses Looting Jadi Lambat, Developer Akui Ini Tidak Disengaja
GAMING
•

NEWS
PlayStation Dikabarkan Gelar State of Play Baru pada Februari
GAMING
•

NEWS
GTA 6 Disebut Mungkin Tanpa Versi Fisik Saat Rilis Perdana Demi Cegah Kebocoran
GAMING
•

NEWS
Blizzard Siapkan Empat Showcase Besar Awal 2026 untuk World of Warcraft, Overwatch, Hearthstone, dan Diablo
GAMING
•

ALSO READ


Valve Hadapi Gugatan Rp14 Triliun Lebih di Inggris, Dituduh Manfaatkan Dominasi Steam
Nathaniel
Rabu, 28 Januari 2026 pukul 13.27
GAMING
|
in this topic.
Ringkasan
Dibuat oleh AI
Pengadilan Inggris mengizinkan gugatan besar terhadap Valve berlanjut. Perusahaan dituduh memanfaatkan dominasi Steam untuk membatasi harga di toko lain dan mengambil komisi tinggi yang merugikan jutaan gamer.
Valve kini menghadapi gugatan hukum besar di Inggris dengan nilai klaim mencapai sekitar £656 juta atau setara $900 juta. Gugatan ini menuduh perusahaan menyalahgunakan dominasinya di pasar game PC melalui platform Steam untuk mengenakan harga game dan DLC yang lebih mahal kepada konsumen.
Kasus ini disetujui untuk lanjut ke tahap persidangan oleh UK Competition Appeal Tribunal (CAT). Artinya, pengadilan menilai ada cukup dasar hukum untuk menguji tuduhan tersebut di pengadilan, meski belum memutuskan siapa yang benar.
Gugatan ini mewakili hingga 14 juta gamer di Inggris yang disebut telah membayar lebih mahal antara £22 hingga £44 per orang sejak Juni 2018.
Penggugat utama dalam kasus ini adalah Vicki Shotbolt, seorang aktivis hak digital anak yang kini menjadi perwakilan kelas kolektif. Ia meluncurkan kampanye bertajuk “Steam You Owe Us” untuk menuntut Valve. Situs kampanye tersebut menegaskan bahwa Shotbolt tidak akan mengambil keuntungan pribadi dari gugatan ini.
Inti tuduhan menyebut Valve menggunakan kebijakan tertentu untuk mencegah publisher menjual game dan konten tambahan dengan harga lebih murah di toko digital lain. Salah satu sorotan utama adalah dugaan platform parity obligation, yaitu aturan yang membuat publisher harus menjaga harga di Steam tetap setara atau lebih murah dibanding platform lain.
Selain itu, Valve juga dikritik atas komisi standar 30 persen yang diambil dari setiap transaksi di Steam. Penggugat mengklaim struktur ini berkontribusi pada harga game yang lebih tinggi bagi konsumen.
Valve sendiri mencoba menghentikan gugatan ini sebelum masuk persidangan. Mereka berargumen bahwa analisis pihak penggugat tidak relevan dan membandingkan Steam dengan pasar yang berbeda, seperti e-book. Valve juga menekankan bahwa adanya Steam Keys memungkinkan game dijual di toko pihak ketiga tanpa komisi Valve, sehingga seharusnya mengurangi dampak dominasi Steam.
Namun, pengadilan menolak argumen tersebut. CAT menyatakan bahwa jika fokus diarahkan ke setiap game atau publisher secara individual, maka hampir mustahil membawa klaim penyalahgunaan harga ke pengadilan.
Hakim menilai ada cukup bukti awal untuk menguji apakah kebijakan Valve memang menciptakan harga yang tidak adil dan merugikan konsumen.
Meski demikian, pengadilan juga mengakui bahwa membuktikan dampak langsung kebijakan Steam terhadap harga pasar akan menjadi tantangan besar. Proses ini dipastikan rumit, terutama dalam menghitung seberapa besar kerugian yang dialami para gamer.
Kasus ini bisa menjadi salah satu gugatan terbesar yang pernah dihadapi Valve dan berpotensi mengguncang industri distribusi game digital.
Jika pengadilan nantinya memutuskan Valve bersalah, dampaknya bisa sangat besar, tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga terhadap cara Steam mengatur harga, komisi, dan hubungan dengan publisher di masa depan.
Similar Articles
NEWS
Valve Hadapi Gugatan Rp14 Triliun Lebih di Inggris, Dituduh Manfaatkan Dominasi Steam
GAMING
•

NEWS
Valve Hadapi Gugatan Rp14 Triliun Lebih di Inggris, Dituduh Manfaatkan Dominasi Steam
GAMING
•

NEWS
Update Baru Arc Raiders Bikin Proses Looting Jadi Lambat, Developer Akui Ini Tidak Disengaja
GAMING
•

NEWS
Update Baru Arc Raiders Bikin Proses Looting Jadi Lambat, Developer Akui Ini Tidak Disengaja
GAMING
•

NEWS
PlayStation Dikabarkan Gelar State of Play Baru pada Februari
GAMING
•

NEWS
PlayStation Dikabarkan Gelar State of Play Baru pada Februari
GAMING
•

NEWS
GTA 6 Disebut Mungkin Tanpa Versi Fisik Saat Rilis Perdana Demi Cegah Kebocoran
GAMING
•

NEWS
GTA 6 Disebut Mungkin Tanpa Versi Fisik Saat Rilis Perdana Demi Cegah Kebocoran
GAMING
•

Veirn.
Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.
Veirn.
Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.
Veirn.
Uncover the art and innovation of Gaming in our blog, where we explore Technology trends, Gaming Market structures, and the creative minds shaping the built environment.